Senin, 10 Desember 2012

My 1st winning essay


Globalisasi dan Mosa di Masa yang Akan Datang
            Modal Bangsa, salah satu sekolah ternama di Aceh yang terkenal akan prestasi baik dari bidang akademik maupun seni dan olahraga. Sudah banyak piala-piala bergengsi yang tersusun rapi di lemari piala SMA Modal Bangsa baik dari tingkat Provinsi maupun Nasional. Bahkan salah satu kabar teranyar yang sekaligus menjadi buah bibir di kalangan remaja Aceh, klub Teater Mosa berhasil merebut medali emas di Lombok pada FLS2N baru-baru ini. Dan di kancah FLS2N tahun 2012 hanya Modal Bangsa yang dapat mewakili aceh mendapatkan medali emas yang tentunya menjadi idaman dari setiap Provinsi di Indonesia. Dan tidak hanya di bidang seni, lagi-lagi Modal Bangsa ikut unjuk gigi di bidang akademik dengan mengirimkan 4 anak didiknya ke kancah OSN yang digelar di Jakarta mengungguli rivalnya Farhan yang hanya dapat mengirim 2 anak didiknya.
            Dengan sederet prestasi yang sudah dihasilkan oleh Modal Bangsa baru-baru ini, sangatlah rasional jika kita membandingkan dengan prestasi-prestasi yang dilahirkan Modal Bangsa di generasi-generasi sebelumnya. Mungkin salah satu murid SMA Modal Bangsa yang sudah sangat mengharumkan nama sekolah ini adalah dr. Tompi. Dewasa ini, siapa yang tidak mengenal beliau. Selain menjadi salah satu musisi papan atas di Indonesia, juga sangat gemilang mencapai gelar spesialisnya. Sungguh menjadi kebanggan luar biasa bagi keluarga SMA Modal Bangsa pernah mendidik anak yang cerdas seperti beliau. Dan tentunya menjadi harapan keluarga SMA Modal Bangsa untuk dapat melahirkan Tompi-Tompi selanjutnya.
            Namun, penulis merasakan penurunan prestasi yang dialami oleh salah satu SMA favorit ini. dimana terlihat pada acara OSN tahun kemarin, MOSA dipaksa mengalah dan hanya dapat mengirimkan seorang anak didiknya untuk mengikuti kontes ilmu sains se-Indonesia  itu. Mungkin penurunan prestasi tersebut juga dipengaruhi oleh zaman globalisasi yang sekarang ini sudah luar biasa membludak di kalangan remaja. Tidak hanya membludak tapi bahkan terkadang salah dipergunakan oleh sebagian kalangan remaja di Indonesia. dan ketika  mereka salah dalam mempergunakan teknologi tersebut mereka akan ketagihan dan muncul rasa ingin mencoba lagi dan lagi, dan tentunya kejadian ini akan memicu kelalaian yang akan berdampak pada masa depan SMA itu sendiri. Jadi bagaimana penyelesaianya mengingat sangatlah tidak mungkin bagi pihak sekolah menahan arus globalisasi yang hari demi hari terus bergejolak di seluruh belahan dunia tersebut?  Tentunya ini merupakan masalah terbesar yang penulis rasa tidak hanya dimiliki oleh SMA Modal Bangsa, bahkan mungkin seluruh SMA di dunia ini. namun di kalangan SMA Modal Bangsa terdapat salah satu masalah yang menambah beban SMA berasrama ini untuk mengurangi dampak negative dari globalisasi itu sendiri. Yakni bertambahnya jumlah peserta didik di tahun ajaran 2012/2013 ini. dari sebelumnya SMA Modal Bangsa yang hanya menerima 116 murid per tahunnya kini meningkat menjadi 152 per tahunnya. Tentu saja hal ini akan memperkeruh suasana peminimalisir dampak negative globalisasi, dan akan sangat berdampak pada prestasi SMA Modal Bangsa mengingat jika quotanya dinaikkan maka secara automatis akan mengurangi rasa persaingan antara siswa itu sendiri. Tidak hanya itu, jika kita mengganti sudut pandang ke siswanya sendiri tentu secara tidak langsung akan mempengaruhi  mental si anak sendiri, dimana, kehadiran siswa tambahan akan memicu pertambahan basis. Dan basis tambahan (basis 4) otomatis akan terdeskriminasi dengan tidak adanya abang basis yang membantu mereka di tahun perdana ini. dan di tahun ini juga karena quota fasilitas sudah overload sehingga memaksa pihak sekolah untuk mengumpulkan dana untuk memperluas fasilitas seperti mushalla, menambah kelas dll.
            Dengan beberapa analisis di atas, penulis berkesimpulan bahwa masa depan SMA Modal Bangsa akan gemilang jika dapat mengatasi perkembangan globalisasi yang membludak dan adalah suatu hal yang salah untuk menambahkan quota siswa baru, karena berdampak negative tidak hanya kepada pihak sekolah namun juga murid itu sendiri.

0 komentar:

Posting Komentar