My 1st winning essay
Globalisasi dan Mosa di Masa yang Akan Datang
Modal Bangsa, salah satu sekolah
ternama di Aceh yang terkenal akan prestasi baik dari bidang akademik maupun
seni dan olahraga. Sudah banyak piala-piala bergengsi yang tersusun rapi di
lemari piala SMA Modal Bangsa baik dari tingkat Provinsi maupun Nasional.
Bahkan salah satu kabar teranyar yang sekaligus menjadi buah bibir di kalangan
remaja Aceh, klub Teater Mosa berhasil merebut medali emas di Lombok pada FLS2N
baru-baru ini. Dan di kancah FLS2N tahun 2012 hanya Modal Bangsa yang dapat
mewakili aceh mendapatkan medali emas yang tentunya menjadi idaman dari setiap
Provinsi di Indonesia. Dan tidak hanya di bidang seni, lagi-lagi Modal Bangsa
ikut unjuk gigi di bidang akademik dengan mengirimkan 4 anak didiknya ke kancah
OSN yang digelar di Jakarta mengungguli rivalnya Farhan yang hanya dapat
mengirim 2 anak didiknya.
Dengan sederet prestasi yang sudah
dihasilkan oleh Modal Bangsa baru-baru ini, sangatlah rasional jika kita
membandingkan dengan prestasi-prestasi yang dilahirkan Modal Bangsa di
generasi-generasi sebelumnya. Mungkin salah satu murid SMA Modal Bangsa yang
sudah sangat mengharumkan nama sekolah ini adalah dr. Tompi. Dewasa ini, siapa
yang tidak mengenal beliau. Selain menjadi salah satu musisi papan atas di
Indonesia, juga sangat gemilang mencapai gelar spesialisnya. Sungguh menjadi
kebanggan luar biasa bagi keluarga SMA Modal Bangsa pernah mendidik anak yang
cerdas seperti beliau. Dan tentunya menjadi harapan keluarga SMA Modal Bangsa
untuk dapat melahirkan Tompi-Tompi selanjutnya.
Namun, penulis merasakan penurunan
prestasi yang dialami oleh salah satu SMA favorit ini. dimana terlihat pada
acara OSN tahun kemarin, MOSA dipaksa mengalah dan hanya dapat mengirimkan
seorang anak didiknya untuk mengikuti kontes ilmu sains se-Indonesia itu. Mungkin penurunan prestasi tersebut juga
dipengaruhi oleh zaman globalisasi yang sekarang ini sudah luar biasa membludak
di kalangan remaja. Tidak hanya membludak tapi bahkan terkadang salah
dipergunakan oleh sebagian kalangan remaja di Indonesia. dan ketika mereka salah dalam mempergunakan teknologi
tersebut mereka akan ketagihan dan muncul rasa ingin mencoba lagi dan lagi, dan
tentunya kejadian ini akan memicu kelalaian yang akan berdampak pada masa depan
SMA itu sendiri. Jadi bagaimana penyelesaianya mengingat sangatlah tidak
mungkin bagi pihak sekolah menahan arus globalisasi yang hari demi hari terus
bergejolak di seluruh belahan dunia tersebut? Tentunya ini merupakan masalah terbesar yang
penulis rasa tidak hanya dimiliki oleh SMA Modal Bangsa, bahkan mungkin seluruh
SMA di dunia ini. namun di kalangan SMA Modal Bangsa terdapat salah satu
masalah yang menambah beban SMA berasrama ini untuk mengurangi dampak negative
dari globalisasi itu sendiri. Yakni bertambahnya jumlah peserta didik di tahun
ajaran 2012/2013 ini. dari sebelumnya SMA Modal Bangsa yang hanya menerima 116
murid per tahunnya kini meningkat menjadi 152 per tahunnya. Tentu saja hal ini
akan memperkeruh suasana peminimalisir dampak negative globalisasi, dan akan
sangat berdampak pada prestasi SMA Modal Bangsa mengingat jika quotanya
dinaikkan maka secara automatis akan mengurangi rasa persaingan antara siswa
itu sendiri. Tidak hanya itu, jika kita mengganti sudut pandang ke siswanya
sendiri tentu secara tidak langsung akan mempengaruhi mental si anak sendiri, dimana, kehadiran
siswa tambahan akan memicu pertambahan basis. Dan basis tambahan (basis 4)
otomatis akan terdeskriminasi dengan tidak adanya abang basis yang membantu
mereka di tahun perdana ini. dan di tahun ini juga karena quota fasilitas sudah
“overload” sehingga memaksa pihak sekolah
untuk mengumpulkan dana untuk memperluas fasilitas seperti mushalla, menambah
kelas dll.
Dengan beberapa analisis di atas,
penulis berkesimpulan bahwa masa depan SMA Modal Bangsa akan gemilang jika
dapat mengatasi perkembangan globalisasi yang membludak dan adalah suatu hal
yang salah untuk menambahkan quota siswa baru, karena berdampak negative tidak
hanya kepada pihak sekolah namun juga murid itu sendiri.
0 komentar:
Posting Komentar